![]() |
| Sumber foto: Istimewa |
Ateisme praktis adalah cara hidup yang menyingkirkan Tuhan dari ruang keputusan, meski lisan tetap mengaku beriman. Fenomena ini pelan‑pelan mengikis kesadaran ketuhanan dan menjadikan agama sekadar identitas sosial tanpa daya etis.
Secara ilmiah, kita dapat memahami ateisme praktis adalah sikap subjek yang mengakui keberadaan Tuhan secara kognitif, tetapi menafikan-Nya dalam praktik kehidupan sehari‑hari. Berbeda dari ateisme teoritis yang menolak Tuhan secara argumentatif. ateisme praktis ini justru bersinggungan dalam ranah kebiasaan, pilihan moral, dan orientasi hidup yang “seakan‑akan Tuhan tidak ada”
Dalam perspektif teologi Islam, ateisme praktis sama halnya dengan “ghaflah” (kelalaian eksistensial), ketika kalimat tauhid hanya berhenti pada level ucapan, namun tidak menembus struktur kesadaran dan tindakan. Akibatnya, hubungan vertikal dengan Tuhan tereduksi menjadi rutinitas ritual, sementara seluruh orientasi kehidupan digerakkan oleh logika materialistik dan kepentingan sesaat.
Pada praktiknya ateisme praktis bisa terlihat dalam berbagai ruang, ruang kelas, di pasar, di ruang sidang, bahkan di masjid, ateisme praktis bisa menyaru dalam bentuk yang sangat “normal”: mahasiswa yang fasih berdiskusi teologi tetapi melewatkan shalat saat rapat, pedagang yang rajin shalat namun menipu timbangan, atau pejabat yang lantang menyebut nama Tuhan sambil menandatangani kebijakan zalim. Secara sosiologis, mereka tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai ateis, tetapi pola hidupnya meminggirkan Tuhan dari meja keputusan moral.
Di level budaya juga kerap kali bersinggungan, penekanan berlebihan pada sains, teknologi, dan ekonomi tanpa horizon transendensi melahirkan struktur masyarakat yang fungsional tetapi kering makna. Bagi mereka Tuhan tidak dibantah, hanya dianggap tidak relevan untuk dibawa ke ruang riset, ke rapat bisnis, atau ke percakapan tentang masa depan; inilah ateisme praktis dalam skala sistemik, ketika spiritualitas dipaksa mundur ke wilayah privat dan seremonial semata.
Secara psikologis, ateisme praktis menempatkan manusia dalam kontradiksi batin yang halus namun menyakitkan: di satu sisi ingin diakui sebagai hamba Tuhan, di sisi lain tunduk total pada logika pasar, gengsi sosial, dan nafsu kekuasaan.
Konflik ini melahirkan kecemasan eksistensial—hidup terasa sibuk, penuh pencapaian, tetapi hampa makna karena pusat gravitasi hidup bukan lagi ridha Tuhan, melainkan tepuk tangan manusia.
Paradoks ini juga berdampak etis: ketika Tuhan hanya menjadi simbol, ukuran baik‑buruk mudah dinegosiasikan sesuai kepentingan mayoritas atau selera pribadi. Dalam jangka panjang, masyarakat yang terbiasa dengan ateisme praktis akan memandang korupsi, kebohongan, dan kekerasan sebagai “risiko biasa”, bukan lagi sebagai pengkhianatan terhadap janji suci di hadapan Tuhan.
Menghindari ateisme praktis bukan sekadar menambah wacana teologis, tetapi mengembalikan Tuhan sebagai pusat orientasi hidup: dalam ilmu, kerja, politik, bahkan dalam cara mencintai dan membenci. Praktiknya tampak sederhana namun radikal: menimbang setiap keputusan dengan sadar, “apa maknanya di hadapan Allah?”, lalu berani memilih yang benar meski lebih lambat, lebih sepi pujian, atau lebih berat secara duniawi.
Pada akhirnya, kritik terhadap ateisme praktis adalah ajakan lembut namun tegas: jangan biarkan nama Allah hanya hidup di bibir dan di biodata, tetapi mati di dalam struktur perilaku. Di tengah dunia yang terus menggoda manusia untuk memuja hal-hal selain Tuhan, mempertahankan koherensi antara akidah dan tindakan pada masa skarang ini adalah bentuk perlawanan paling sunyi sekaligus paling revolusioner.
Abdul Azis


