Iklan

Aktivisme, Integritas, dan Revolusi yang Terlupakan

narran
Selasa, 10 Maret 2026 | Maret 10, 2026 WIB Last Updated 2026-03-10T12:19:21Z

 

Aktivisme, Integritas, dan Revolusi yang Terlupakan
Sumber foto: Generated Image

NARRAN.ID, OPINI — Kampus selalu menjadi ruang yang riuh oleh gagasan dan perlawanan. Spanduk terbentang. Orasi menggema. Kata “keadilan” diteriakkan dengan keyakinan penuh, seolah-olah ia adalah janji yang pasti akan ditepati sejarah. Negara dikritik, birokrasi disorot, sistem dituding sebagai sumber segala ketimpangan.

Namun, di sela heroisme itu, ada paradoks yang sering kita abaikan. Selepas demonstrasi usai, disiplin personal tetap longgar. Aturan sederhana dilanggar tanpa rasa bersalah. Literasi tidak tumbuh secepat retorika. Ideologi diucapkan dengan lantang, tetapi tidak selalu menjelma dalam laku keseharian.

Ini bukan sekadar persoalan moral individu. Ia menyentuh problem yang lebih dalam: pembentukan mentalitas.

Dalam perspektif Pierre Bourdieu, praktik kecil yang diulang terus-menerus akan membentuk habitus—struktur disposisi yang mengarahkan cara seseorang berpikir dan bertindak. Habitus bekerja diam-diam, tetapi menentukan arah tindakan. Jika keseharian kita dipenuhi sikap permisif terhadap ketidaktertiban, maka habitus yang terbentuk adalah mentalitas yang longgar terhadap aturan dan tanggung jawab.

Masalahnya, habitus inilah yang kemudian dibawa ke ruang gerakan.

Kita sering memahami keadilan sebagai proyek eksternal—seolah ia hanya soal regulasi, kebijakan kampus, atau struktur kekuasaan. Padahal struktur sosial, sebagaimana dipahami Bourdieu, direproduksi melalui praktik sehari-hari. Sistem tidak hanya berdiri di luar diri; ia hidup dalam pola perilaku yang kita normalisasi.

Di titik ini, kritik menjadi relevan: bagaimana mungkin menuntut tata kelola yang tertib jika dalam praktik kecil kita abai terhadap ketertiban? Bagaimana mungkin berbicara tentang etika publik jika etika personal tidak dianggap penting?

Lebih jauh lagi, ada persoalan kedalaman berpikir. Kita hidup di zaman ketika berbicara terasa lebih mendesak daripada membaca. Orasi tumbuh lebih cepat daripada literasi. Isu kompleks direduksi menjadi slogan. Emosi sering menggantikan analisis.

Paulo Freire menyebut pembebasan sejati lahir dari kesadaran kritis—kesanggupan membaca realitas secara reflektif dan mendalam, bukan sekadar bereaksi terhadapnya. Tanpa kesadaran kritis, gerakan mudah berubah menjadi reproduksi kemarahan kolektif. Ia riuh, tetapi tidak transformatif.

Kampus seharusnya menjadi ruang pembentukan kesadaran semacam itu. Ia bukan panggung simbolik, melainkan laboratorium intelektual. Ketika tradisi membaca melemah dan verifikasi data dianggap sekunder, gerakan kehilangan fondasi epistemiknya. Kritik tetap terdengar, tetapi argumentasinya rapuh.

Ironi lain terletak pada konsistensi nilai. Banyak yang berbicara tentang moralitas publik, tetapi enggan menata moralitas personal. Dalam tradisi etika klasik Islam, Al-Ghazali menekankan bahwa pembenahan masyarakat harus diawali dengan tazkiyatun nafs—penyucian dan pendisiplinan diri. Tanpa integritas internal, kritik eksternal berisiko berubah menjadi kesombongan moral.

Di sinilah krisis yang sesungguhnya: jarak antara kata dan tindakan.

Gerakan mahasiswa hidup dari legitimasi moral. Publik memberi kepercayaan karena mahasiswa dipandang sebagai representasi nurani kritis. Namun legitimasi ini tidak bersifat permanen. Ia bertumpu pada keselarasan antara gagasan dan laku. Ketika jarak itu melebar, wibawa perlahan terkikis. Kritik mungkin tetap benar, tetapi daya persuasinya melemah.

Tentu tidak semua aktivisme terjebak dalam paradoks ini. Banyak gerakan yang tetap menjaga kedalaman akademik dan integritas personal. Namun kecenderungan menuju simbolisme tanpa internalisasi nilai adalah risiko nyata di era media sosial, ketika viralitas lebih dihargai daripada validitas, dan militansi lebih cepat dibentuk daripada literasi.

Jika habitus yang dominan dalam gerakan adalah retorika tanpa refleksi, maka perubahan yang lahir pun cenderung superfisial. Struktur mungkin berganti, tetapi mentalitas lama tetap bercokol di dalamnya. Reformasi berubah menjadi sirkulasi wajah, bukan transformasi nilai.

Karena itu, urgensi pembenahan ini bukan untuk meredam keberanian mahasiswa, melainkan untuk mematangkannya. Aktivisme tidak perlu dikurangi; ia perlu diperdalam. Keberanian bersuara harus berjalan beriringan dengan disiplin berpikir. Kritik struktural harus ditopang integritas personal.

Kita tidak kekurangan orang yang berani berteriak.

Yang kita kekurangan adalah orang yang bersedia membentuk dirinya secara sunyi.

Mungkin revolusi paling radikal bukanlah mengguncang sistem dari luar, tetapi membongkar mentalitas yang diam-diam kita pelihara di dalam diri. Sebab tanpa habitus yang kokoh, tanpa kesadaran kritis, dan tanpa integritas personal, aktivisme hanya akan menjadi pertunjukan musiman—ramai di jalan, tetapi sepi dalam kedalaman.

Dan kampus, yang seharusnya menjadi ruang pembentukan peradaban, tidak boleh puas hanya menjadi panggung suara.

Penulis:
Zalsabila
Mahasiswa Aktif Universitas Islam Negeri Imam Bonjol

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Aktivisme, Integritas, dan Revolusi yang Terlupakan

Trending Now