![]() |
| Sumber: Unsplash/Waldemar Brandt |
Nilai tukar inilah yang mengukuhkan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional untuk masuk gerbang dunia. Banyak orang, termasuk di Indonesia, secara instrumental melihat kemampuan bahasa Inggris sebagai paspor untuk naik kelas. Ini bukan pilihan budaya, melainkan respons rasional terhadap struktur global. Siswa di Indonesia memulai perjalanannya di kelas 3 SD lewat mata pelajaran wajib bahasa Inggris dengan pendekatan formal. Memperkenalkan bahasa secara gramatikal lewat pembelajaran di kelas. Tanggapannya bermacam-macam, ada yang jadi senang belajar bahasa Inggris, ada yang tidak suka, bahkan takut. Pada akhirnya, opini dan pola pikir siswa tentang belajar bahasa Inggris membentuk jurang antara siswa yang menikmatinya dan yang terpaksa mempelajarinya. Hal ini didasari oleh cara belajar bahasa yang kurang fleksibel.
Selama ini di kelas siswa hanya disibukkan dengan mendikte pola tenses, grammar rules, dan menyusun kalimat sesuai kaidah. Seolah belajar bahasa Inggris tidak jauh berbeda dengan pengetahuan rumus matematika. Padahal, memahami bahasa berarti juga menangkap mengapa sebuah kata dipilih, situasi seperti apa sebuah frasa terasa cocok dengan konteks bicara, dan nuansa apa yang tersembunyi di balik pilihan diksi. Hal tersebut bisa dijembatani lewat pengetahuan budaya. Tanpa itu, siswa hanya seperti mesin yang diberi coding untuk menyusun kalimat gramatikal sempurna, tetapi menjadi gagap ketika membaca konteks pembicaraan.
Rasanya, kesenjangan inilah yang ingin dijawab melalui Gelar Wicara: Lost in Translation, Open Up a New Aspiration, kemarin (13/09). Kegiatan daring yang diselenggarakan oleh Distrik Berisik DPD Bandung, berkolaborasi dengan Sukma Community dan Ruang EkspreZi. Acara ini bukan hanya mengundang akademisi, seperti Prof. Eri Kurniawan, M.A., Ph.D., Guru Besar Linguistik di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris, UPI, tetapi juga menghadirkan tamu undangan dari Australia.
Josh Luckman, pemuda asal Australia yang berhasil menjadi delegasi program FLIP (Flexible Language Immersion Program) pada tahun 2024, kerja sama kelas BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) ACICIS dan UGM, didapuk untuk membawakan seri bertajuk “Bridges, Not Walls: What I Learned Crossing Languages Both Ways.” Kehadirannya seolah membalikkan cara pandang yang selama ini kita lihat bahwa arus belajar bahasa hanya mengalir satu arah, dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.
Pada pemaparannya, Josh memperlihatkan bagaimana bahasa Indonesia dipelajari oleh penutur jati bahasa Inggris. Tanpa kepentingan ekonomi maupun politik, ia tetap tertarik untuk mempelajari. Inilah yang membuat proses belajarnya seperti bridge, resiprokal yang penuh rasa ingin tahu, dorongan minat intelektual dan afeksi. Membalikkan kenyataan proses belajar bahasa Inggris yang lebih transaksional.
Hal ini diperkuat oleh kisah perjalanan Prof. Eri yang mempelajari bahasa Inggris. Membukakan gerbang internasional dengan segudang pengalaman menarik.
"English is way out you see the world. It’s not just a classroom subject—it’s a passport to endless possibilities and the ultimate key to opening global doors.”
Dari sinilah pesan gelar wicara ini tersampaikan bahwa bahasa Inggris memang menjadi paspor menuju gerbang dunia. Namun, di balik itu, bahasa Indonesia tetap menjadi satu kesatuan yang membentuk ideologi, menyimpan pengetahuan lokal, dan merawat kekayaan budaya yang menjadi identitas bangsa Indonesia di mata dunia.
Penulis: Icha Nur Octavianissa dan Ajeng Noer Syifa Dewi
(Executive Director Class-up Ptesol Project)
#BahasaInggris #Linguistik #English #Language



